Hotel Murah Cirebon

Kontak Kami

Silakan hubungi kami
Pondok Avicenna, Jl. Taman Pemuda no. 2 Cirebon 45132, Jawa Barat,
HP : 085315093972, 081395924474
Pin BB : 79DDD375, 292C73EA

Mari Mengenal Situs Batu Naga Di Kuningan

Tim arkeolog Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) tengah meneliti batu tulis bertatahkan gambar naga di Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat. Batu ini mungkin satu-satunya peninggalan berwujud naga di Jawa Barat. Batu tulis ini terletak di puncak Gunung Tilu, Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karangkencana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penduduk sekitar telah lama mengetahui keberadaan batu ini, tapi tidak merasa berkepentingan untuk menilik keadaan situs yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini. Situs ini hanya rutin dikunjungi oleh orang-orang yang bertapa maupun ngalap berkah, mencari pesugihan.

Batu tegak yang berpahat gambar naga tersebut diperkirakan merupakan peninggalan zaman prasejarah. Batu tegak yang berasal dari batu utuh, sesuai batu aslinya tanpa dibentuk adalah ciri umum peninggalan prasejarah. Tapi, pahatan gambar dalam batu, apalagi bergambar naga, bukan merupakan ciri khas masyarakat prasejarah. Jadi, dari masa apakah peninggalan ini berasal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada kemungkinan relief itu dipahat belakangan. Susunan batu diperkirakan memang berasal dari masa prasejarah, pada periode tahun 500 SM. Belakangan, ukirannya dibuat oleh manusia dari masa yang berbeda. Ukiran naga diduga berasal dari masa Sunda Kuno di sekitar abad 14-15 masehi.

Peninggalan ini terdiri atas dua batu besar yang tersusun seperti gerbang, menyambut orang yang datang dari arah selatan. Menjelang dan setelah melewati "gerbang' ini, terdapat banyak batu besar berserakan. Kemungkinan besar terdapat pola tertentu pada susunan batu-batu ini. Sayang, pengamatan belum dapat dilakukan karena kondisi situs tertutup tumbuhan hutan. Ada batu bergores yang goresannya membentuk gambar-gambar yang bagus. Saat diperhatikan, gambar tersebut menyerupai bentuk naga. Diduga gambar tersebut adalah naga karena digambar setengah badan dan mempunyai jambul di kepala seperti layaknya naga.

Naga yang terpahat ini sesuai dengan gambaran naga dalam budaya timur karena berwujud ceria. Ada dua macam bentuk naga yang dikenal dalam kebudayaan. Dalam kebudayaan timur, naga adalah lambang kebaikan, sedangkan dalam kebudayaan barat, naga adalah lambang kejahatan yang bengis dan jahat. Jika gambar itu benar gambar naga, maka batu tulis ini adalah peninggalan pertama berbentuk naga yang ditemukan di Jawa Barat. Berbeda dengan daerah Jawa Timur yang kental pengaruh Hindu, bentuk naga tak pernah dikenal di daerah Jawa Barat.

Naga juga tidak dikenal dalam kebudayaan Sunda kuno. Budaya Sunda lebih mengenal ular besar sebagai lambang kesuburan dan pembawa berkah. Gambar tersebut dapat juga dilihat sebagai ular besar yang bermahkota, sebab tak ada gambar kaki seperti yang biasa ditemukan pada perwujudan naga. Pada salah satu batu juga terukir sosok manusia yang berambut gundul. Orang itu memegang ekor naga sambil menyandang senjata. Bentuk senjata tersebut serupa dengan motif yang ditemukan di Candi Sukuh, Jawa Tengah. Ciri ini memperkuat dugaan mengenai umur relief, yang diduga diukir pada masa Sunda Kuno, dimana Majapahit masih berjaya.

Satu sisi batu ini diukir dengan gambar segitiga yang diduga perlambang gunung dan atap rumah. Dua orang digambarkan bercocok tanam, dengan pahatan yang lebih tipis dibanding sebelumnya. Segitiga ini juga bisa dipakai untuk menggambarkan gunung yang meletus. Menurut penduduk setempat, di tempat setinggi 1300 meter di atas permukaan laut ini juga pernah ditemukan gentong gerabah yang terkubur di dalam tanah. Sayangnya keberadaan temuan itu kini tidak diketahui.

Mengacu pada letaknya di ketinggian, diduga bahwa pada masa megalitikum tempat ini digunakan untuk tempat pemujaan arwah leluhur. Pada masa Sunda Kuno, tempat ini berubah menjadi tempat para resi dan pendeta menyepi dan melepaskan diri dari agama Hindu dan Budha yang merupakan dua agama utama pada masa itu.

Perjalanan menuju lokasi batu tulis itu tidak mudah. Butuh waktu berkendara selama enam jam dari Jakarta hingga tiba di Kuningan. Dari Kuningan menuju Desa Banjaran, pemukiman terakhir di kaki gunung. Dari Desa Banjaran, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama tiga hingga lima jam melewati hutan dengan vegetasi lebat. Banyak semak berduri dan pacet, tidak ada jalan.

Oya, bila Anda saat ini sedang berada di Cirebon, entah dalam rangka liburan (baik sendiri maupun bersama keluarga) maupun perjalanan dinas/kantor dan memerlukan tempat untuk menginap, maka menginap di Pondok Avicenna adalah pilihan yang tepat.  Hotel Murah Di Cirebon yang terletak di Jalan Taman Pemuda No. 2 Cirebon ini memiliki 28 kamar dengan beberapa fasilitas diantaranya kamar mandi di dalam, internet unlimited 24 jam, lemari pakaian, AC, air panas dan air dingin, TV LCD.  Sewa penginapan murah di Cirebon mematok tarif sewa kamar sebesar Rp 100 ribu per hari.  Hotel di Kota Cirebon ini terletak di tempat yang strategis dan dikenal sebagai Hotel Cirebon Murah Bagus.



Artikel Lainnya :
Copyright © 2020 - HotelMurahCirebon.com - All Rights Reserved
eXTReMe Tracker